Saya mau berbagi pengalaman saya berada di laut lepas, tepatnya di samudra Hindia.Waktu itu dalam rangka assigment dari majalah National Geographic yang akan menurunkan laporan tentang industri tuna di Indonesia.
Saya lalu di kirim ke pelabuhanperikanan Benoa di Bali. Dari sana oleh salah seorang relawan dari WWF (world wild fund.), Bpk. Soehartoyo, saya di carikan kapal nelayan yang hendak membawa saya ke blok penangkapan ikan di tengah laut. Setelah urusan koordinasi selesai saya lalu ditempatkan di kapal nelayan sari Segara 04. Kapal ini adalah kapal penangkap ikan jenis Longline, yaitu yang menggunakan mata pancing untuk menangkap tuna bukan dengan menggunakan jaring yang biasa di sebut Troll.
Panjang kapalnya hanya 12 meter dan terbuat dari fiberglass dengan bobot 25 ton. Jadi lumayan enteng, konon kapal buatan Jepang ini lincah dan tidak mudah terbalik karena keseimbangannya tinggi dibandingkan dengan kapal kayu. Tahu betul atau tidak saya mah mengiyakan saja keterangan awak kapalnya, walaupun dalam hati rada kaget juga karena saya mengira akan ikut kapal nelayan yang besar dan tingkat keselamatannyatinggi. Ternyata kapal yang saya ikuti imut-imut... .he...he. ...
Untuk mencapai titik blok penangkapan ikan biasanya kapal menempuh sekitar 3 hari 3 malam perjalanan dengan kecepatan kapal antara 8-10 knot. Blok penangkapannya sendiri terletak kira-kira di 16 mil laut garis Lintang Selatan, atau lebih dari 500 km dari Benoa di tengah samudra Hindia. Saya merinding juga mengetahui hal itu500 km dari laut boookalau terjadi apa-apa bagaimana? Siapa yang mau nolongin? Wong kapal Senopati yang tenggelam di laut Jawa saja pencarian korbannya saja oleh pemerintah nggak oke kayak gitu, gimana kalau kecelakaan di samudra lepas kayak samudra Hindia ini. Awak kapal dengan santainya menjawab pertanyaan saya itu dengan berkata, Ya, kita pasrah aja . Nah lu! Mesem saya mendengar jawabannya.
Mereka malah bercerita sekitar beberapa bulan yang lalu ada awak kapal yangjatuh ke laut di tengah samudra Hindia dan hilang begitu saja. Korban terjatuh ke laut karena ketika mabuk laut dan muntah-muntah di pinggir kapal. Mungkin karena muntahnya hebat dan posisinya tidak seimbang dia jatuh ke laut. Untuk itu mereka menyarankan saya kalau muntah sujud saja di lantain kapal jangan dipinggir kapal bisa jatuh, dan kalau jatuh hilangnya cepat karena arus lautnya kuat. Apalagi jika terjatuh malam hari, nggak ada yang tahu tuhketahuannya hilang ketika piket pagi sang korban ternyata dicari-cari tidak ada di atas kapal. Mau di cari kemana? Kembali menyusuri jalur pelayaran pun mustahilmakanya kalau ada yang hilang di laut diikhlaslan saja..
Kaget saya mendengar cerita para awak kapal tersebut, saya mengambil kesimpulan betapa rendahnya tingkat keselamatan di laut bagi para nelayan kita. Tidak ada system yang layak untuk bisa mengontrol keselamatan di laut. Selama saya di atas kapal itu berhari-hari saya tidak melihat pelampung (live fest)satu pun. Yang saya lihat hanya pelampung berbentuk ban yang di beri tambang, itu pun baru dikeluarkan dari gudang ketika saya memerlukannya untuk element visual dalam pemotretan. Awak kapal bilang ada di gudang. Tapi selama di kapal saya tidak pernah melihat mereka memakainya. Mungkin demi alasan kepraktissan dalam bekerja. Saya pun selama di atas kapal tidak pernah mengenakan baju, hanya celana pendek. Karena ternyata di tengah laut walaupun anginnya keras menggenakan baju tidak nyaman lho.paling nyaman ya bertelanjang dada itu, tapi resikonya kulit punggung saya terbakar dan terkelupas di sana-sini, maklum nggak make sunblock walaupun sebenarnya saya membawanya.
Hampir semua awak kapal sehari-hari bertelanjang dada (kecuali kapten kapal dan wakilnya yang harus jaga image), maklum panas boooAC di kapal udah lama mati namanya juga kapal tua. Untuk keperluan mandi kita semua mandi menggunakan air laut yang disedot dengan mesin pompa. Kalau pagi atau sore harimereka semua mandi bersama-sama di palka atau buritan dan bertelanjang ria (saya juga terpaksa ikutan booohehe.).
Sabun yang digunakan special karena kalau menggunakan sabun mandi biasa busanya nggak keluar, maklum air asin. Begitu juga mencuci baju menggunakan merek sabun yang sama untuk mandi yaitu : SAMPO EMERON WARNA KUNING. Sampo inilah satu-satunya deterjen yang mengeluarkan busa paling banyak dibandingkan merek-merek sabun lain ketika berjumpa dengan air asin. Kebayang nggak satu kapal bau badan, rambut dan bajunya semuanya sama: bau sampo Emeron..hehe .lama-lama saya terbiasa tuh walaupun awalnya binggung ngebedain bau badan sendiri dengan orang lain.
Karena persedian air tawar sedikit maka harus di hemat, digunakan hanya untuk air minum saja.
Selama di atas kapal saya juga tidak pernah menemukan latihan keselematan pelayaran yang seharusnya rutin dilakukan. Belum lagi tidak adanya telepon satelit, padahal berguna sekali kalau adaapa-apa. Kata mereka sih percuma juga menggunakan telepon satelit karena kalau mendekati kutub selatan sinyalnya tidak tercover tuh. Padahal khan telepon satelit ini masuk standar komunikasi untuk pelayaran.
Untuk alat komunikasi mereka hanya menggunakan radio SSB yang kalau cuaca buruk audionya jadi nggak jelas. Lewat radio SSB ini bisa mendengar berita dari BBC bahwa Jakarta dihajar musibah banjir. Tapi herannya saya nggak efek tuh dengar musibah itu, mungkin karena saya merasa dikepung air kiri kanan saya, lho wong ditengah samudra Hindiakurang apa airnya?
Kapal memiliki radar, tapi itu juga sudah rusak dan tidak dapat digunakan dari beberapa tahun yang lalu. Untuk sekoci saya lihat setidaknya ada 2 buah secoci yang ada stempel uji kelaikan dari dirjen perhubungan laut. Tapi terus terang, selama mengarungi samudra hindia dengan kapal ini saya kok deg-deganterus ya? Saya merasa kesepian di laut lepas. Melihat titik kecil kapal lain saja di tengah laut sudah merasa senang. Maunya cepat-cepat deh kapal berlabuh dan bebas dari cengkraman laut.Apakah hal ini yang dirasakan para pelaut dan nelayan? Stress? Kayaknya begitu deh.kasihan mereka.Makanya Franky Sahilatua pernah menciptakan lagu tentang kepedihan para pelaut yang jauh dari sanak saudara.
Tapi juga saya merasakan kedamaian yang amat sangat. Saya rasakan betapa kecilnya saya di bandingkan samudra nan luas, nggak berarti apa-apa. Apalagi di tengah gugusan bintang yang terlihat jelas dari tengah laut. Kayaknya kita sama Tuhan dekeeeeet banget..kayaknya Tuhan tuh merhatiin kitaaaaa banget.kalau ada musibah cuman Tuhan satu-satunya tempat kita berharap..wong di tengah samudra luas begini siapa yang mau nolong , ikan cucut?
Oh ya, ada hal mengenai perbekalan makanan yang perlu di perhatikan untuk mengantisipasi mabuk laut. Saya sarankan bawa yang sachetanNutrisari dan Pocari Sweat yang banyak. Rasa asam-asam manis cocok untuk menangkal mabuk laut. Bawa juga buah apel atau jeruk, karena saya yakin selama 2-3 atau 4 hari perjalanan laut yang ombaknya bisa mencapai 3 meteran tubuh kita akan menolak masuk makanan apapun. Semua makanan yang masuk akan termuntahkan. Masuk makanan sesendok keluar sesendok. Masuk air segelas keluar segelas. Tapi harus kita paksa makan walaupun akan muntah-muntah juga. Makanana dan minuman yang bsia masuk biasanya raanya asam, manis dan asin-asin. Makanya jangan lupa bawa biscuit pula dengan berbagai rasa.
Jangan sampai tidak makan , itu untuk bahan muntahannya. Kalau tidak makan akan keluar cairan usus yang asam rasanya dan kuning warnanya .bila cairan itu itu sudah habis akan terjadi pendarahan pada lambung, itu berbahaya nantinya bisa muntah darah. Oh ya, obat anti mabok Antimo kayaknyanggak efek dehobat itu hanya berguna untuk membuat kita mudah jatuh tertidur dan melupakan ayunan ombak.
Paksakan saja makan, karena dengan memasukan makanan dan minuman ke lambung mencegah terjadi pendarahan lambung. Sampai kemudian tubuh menyesuaikan diri dengan irama laut. Muntah-muntah akan hilang dengan sendirinya. Saya mengalami masa adaptasi ini sekitar 2-3 harian, selebihnya tubuh saya malah menikmati irama laut.
Dari pengalaman muntah-muntah itu saya kok seperti mendapat sesuatu berharga, yaitu bisa merasakan apa yang alami penderita Bulemia dan Anoreksia. Ternyata ada kenikmatan tersendiri lho dibalik muntah-muntah hebatnggak percaya? Begini Ceritanya.eng ingeng..:
Ketika hendak berangkat ikut kapal saya sarapan terlebih dahulu di pelabuhan Benoa, menunya nasi rawon yang sambelnya sangat pedas. Ketika berlayar lebih 12 jam saya mulai muntah-muntah .tahu nggak ternyata muntah-muntah dengan menu muntahan daging rawon dan kuah yangpedas pulus cairan lambung itu sangat tidak enak di mulut, kerongkongan dan hidung. Membuat trauma untuk makan
Akhirnya saya memutuskan untuk hanya makan buah apel dan mimum nutrisari dan pocari sweat. Sebenarnya susah masuk tapi saya paksakan juga walaupun seteguk dua teguk. Dan ternyata dengan menu seperti itu ketika saya muntah-muntah lagi lidah, mulut, krongkongan dan hidung lebih nyaman dibandingkan muntah rawon pedas. Rasa pedas dan bau daging dan nasi yang tadi dirasakan berganti dengan rasa manis dan asam-asam. Apalagi kalau kita minumnya banyak, bau cairan lambung tidak terasa lagi. Beberapa kali saya muntah-muntah dan setelah itu tekanan pada tubuh ini berkurangmual dan eneg langsung hilangpusing langsung hilangkeseimbangan langsung pulih, tubuh segar kembali.
Tapi tak lama kemudian mual, eneg, pusing muncul lagi, lalu muntah-muntah lagi dan tubuh pun pulih lagi. Berkali-kali ini siklus ini terjadi anehnya saya menikmati banget. Ketika tubuhmulai hilang kesimbangan, kepala mulai pusing, perut mulai mual dan eneg tubuh saya ini seperti mengharapkan ingin muntah-muntah secepatnya. Dan ketika muntah-muntah yang pada awalnya saya merasakan ketidak nyamanan kini menjadi nyamananeh ya.malah moment muntah-muntah itu saya tunggu-tunggu saya menikmati betul ketika makanan keluar melalui tenggorokan saya. setelah muntah-muntah semua tekanan pada tubuh dan mental seperti hilang begitu saja.tubuh menjadi enteng dan nyamananehbetul- betul aneh.
Mungkin kenikmatan inilah yang dirasakan oleh penderita Bulemia dan Anoreksia. Dari titik ini saya bisa melihat ketergantungan mereka dengan muntah-muntah membuat tekanan tubuh dan psikologis hilang., walaupun agak menyebalkan kayaknya saya bisa merasakan kenikmatan dan ketergantungan nya lho.
Untungnya saya mengalami muntah-muntah hebat ini hanya 2-3 harian, setelah itu tubuh saya mulai terbiasa dengan irama laut. Jadi dibalik penderitaan fisik danpsikologis penyakit Bulimia dan Anaroksia, ternyata ada kenikmatan lain yang membuat penderita ketagihan Sungguh saya pernah merasakannya lho.
Salam
Feri Latief

0 Response to "Cerita Pelaut di Laut Lepas Samudra Hindia"
Post a Comment