Tulisan ini saya buat untuk meralat pernyataan dari beberapa orang awam yang saya temui saat setiap kali saya pulang menjenguk keluarga.
Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa, pelaut itu adalah mata keranjang, raja dugem, banyak istri, manusia pendosa dan lain sebagainya.
Dimata mereka, segala sesuatu yang dianggap negatif itu hanyalah pelaut saja. Pokoknya pelaut. Titik.
Tanpa sadar, orang-orang yang beranggapan demikian sama sekali tidak pernah mengenal dunia luar, melainkan hanya bercermin dibalik tembok rumahnya sendiri, lalu memuji dirinya paling cantik.
Lalu bagaimana dengan mereka yang bekerja di daratan, terjerat kasus pemerkosaan yang kerap terjadi hampir setiap hari?
Pernakah anda mendengar berita bahwa pelaut (orang yang bekerja dilaut) masuk dalam nara pidana oleh karena kasus pemerkosaan, berbuat cabul kepada anak dibawa umur?
Silahkan buka mata anda menggunakan kaca pembesar, agar anda dapat melihat dengan jelas untuk bisa membedakan siapa sebenarnya yang selalu dipandang negatif.
Lihat... Lihatlah guru ngaji yang berbuat cabul kepada belasan bahkan puluhan muridnya. Atau MUNGKIN mereka yang bekerja di perkantoran yang menduakan hati istrinya, lalu bermesum ria pada perempuan lain yaitu teman kerja mereka.
Gerebek pasangan perselingkuhan disetiap kamar kos sering kali terjadi setiap hari.
Mari kita renungkan sejenak....
Masihkah anda tidak mengintrospeksi diri?
"Keluarkanlah dahulu balok kayu yang ada dalam matamu, kemudian barulah engkau mengeluarkan serbuk kayu dari mata saudaramu..!! "
Perlu anda ketahui bahwa pada dasarnya, karakter orang itu berbeda - beda. Mungkin saja ada sebagian orang yang memang suka dugem, pemabuk dan lain-lain yang jumlahnya dapat dihitung (meskipun mereka tahu bahwa ini adalah akar dan proses menuju jurang api abadi), tetapi saya yakin bahwa sebagian orang yang bekerja di darat juga memiliki hoby yang demikian.
Semua orang itu punya hoby masing-masing dalam menjalani hidup ini.
Penting dan perlu digaris bawahi, sebagian besar pelaut memfokuskan diri pada tugas mulia mereka sebagai pelaut demi menafkahi istri dan anak-anak mereka, menyisihkan rezeki untuk membantu keluarga-keluarga mereka yang berkekurangan, atau bahkan mungkin ada juga yang membantu anak-anak di panti asuhan dan lain-lain.
Jadi, setiap orang punya perinsip hidup masing-masing. Dan perinsip hidup itu berlaku setiap insan, tidak hanya berlaku pada mereka yang bekerja dilaut saja. Semua manusia tanpa terkecuali. Baik atau buruknya perinsip hidup setiap orang akan dipertanggungjawabkan nanti masing-masing pada hari penghakiman.
"Adalah jauuuuuh lebih penting untuk mengetahui secara detail kehidupan pelaut yaitu cobalah berlayar bagi anda yang suka memandang pelaut hanya dengan sebelah mata".
Tetapi, jika anda hanya berputar di lingkungan rumah anda saja, maka yang terjadi hanyalah sikap sentimen, berprasangka buruk mengenai pelaut.
Itulah yang terjadi pada diri anda ketika menanamkan suatu sikap sentimen negatif pada orang lain.
Suatu permainan psikologi manusia yang tanpa sadar sering mempengaruhi paradigma dalam hidup anda sehari-hari dan bermasyarakat.
Saya peribadi, sama sekali tidak membela pelaut, karena kenyataannya tidak demikian sebagaimana apa yang selalu anda pandang negatif.
Jadi, jangan berprasangka buruk terhadap pelaut, tetapi berpikirlah positif serta memberi kesempatan pada mereka untuk menjadi orang-orang yang lebih baik.
Dan bagi para pelaut dimanapun anda berada, tetaplah kerja keras cari duit buat keluargamu, senangkan mereka, syukur-syukur kalau ada tambahan rezeki, bawa istri dan anak-anakmu atau mertua dan orang tuamu jalan-jalan ke Eropa atau ke Paris, itu sudah cukup. 😂😂
Hidup dengan berfokus pada kebahagiaan keluarga dan orang-orang yang anda cinta, dan bukan pada mereka yang memandang anda sebelah mata.
Salam dari pelaut jarang pulang. 😂


0 Response to "Apakah Benar Katanya Pelaut Itu Mata Keranjang?"
Post a Comment